Sunday, June 18, 2017

Strategi Membangun Kekayaan Tanpa Riba Part2

PERTANYAAN 2
MAMPUKAH ANDA MENDAHULUKAN DIRI ANDA?

Mbak Hima dan mas Saud adalah pasangan suami istri yang memiliki beberapa
bisnis yang cukup besar, di antaranya konveksi dan properti. Ketika pertama
kali bertemu saya, dia bercerita bahwa bisnisnya telah gulung tikar, dan
meninggalkan utang total Rp. 17 milyar. Semua hartanya tergadai. Bukan saja
rumah miliknya, rumah milik orang tua dan saudara-saudaranya juga terancam
kena sita. Utangnya tersebar ke berbagai pihak dari mulai dari bank, BPR, supplier,
sampai kepada teman-teman dan karyawannya sendiri. Semua telah habis, yang
tersisa hanyalah setumpuk masalah kronis. Beliau bekata bahwa harta yang kini
dimilikinya tinggal cincin kawin di jari manisnya.

Suatu saat, mbak Hima dan mas Saud datang untuk yang ke sekian kalinya ke
kantor saya untuk minta saran. Dalam waktu dekat, beliau harus segera pulang ke
kampung halaman. Bukan untuk kangen-kangenan dengan keluarga, melainkan
untuk menemui banyak orang yang sedang menunggu pertanggungjawabannya.
Orang tuanya terdesak. Ada puluhan pihak yang mengancam akan menjebloskan
Mbak Hima dan suaminya ke penjara jika utang tak segera diselesaikan. Masalah
mereka sudah masuk ke ranah hukum, sementara jumlah yang harus diselesaikan
sangat besar.

Esok hari, uang tunai dua miliar lebih harus tersedia. Hingga malam sebelumnya,
Mbak Hima hanya berhasil memperoleh utang dari temannya sebesar Rp. 50 juta.
“Bagaimana saya harus menghadapi semua ini, Pak? Saya tidak tahu bagaimana
mengatur uang yang hanya sedikit ini.” Keluh Mbak Hima tanpa semangat..

”Dari uang 50 juta itu, bayarlah diri sendiri dulu. Sisanya, bayarkan kepada para
penagih utang itu.”

Mendengar saran saya, Mbak Hima bingung. Bagaimana tidak, 50 juta rupiah
itu jauh dari sekedar cukup untuk para penagih. Mengapa jumlah itu harus juga
dipotong untuk diri sendiri. Bagaimana mungkin? Apakah ini tindakan yang
benar?

Ya. Itulah yang harus dilakukan. Saya meminta Mbak Hima menyisihkan 5 juta
rupiah untuk disedekahkan. ”Temui orang-orang termiskin di kampung Mbak,
dan bagikan kepada mereka dengan tangan sendiri. Kemudian, sisihkan lagi 5
juta rupiah untuk ditabung. Selanjutnya, sisihkan beberapa juta untuk keperluan
anak-anak. Mungkin mereka perlu sekedar diajak untuk jalan-jalan.”

Saya sampaikan ke Mbak Hima, seberat apapun masalah kita, usahakan jangan
sampai menyentuh anak-anak. Usahakan agar mereka menikmati hidup seperti
biasa, dan tetap bergembira. Jika mereka gembira, maka kita akan gembira.
Anak-anak adalah energi yang luar biasa bagi orang tuanya. Urutan terakhir,
bayarkan uang yang masih ada kepada para penagih. Berapapun yang bisa kita
bayarkan, bayarkan saja.

Utang yang melilit seseorang tidak datang dengan tiba-tiba. Ada proses
panjang yang terjadi sebelumnya. Seperti ketika hendak sakit, lazimnya
didahului dengan dengan berbagai gejala. Sayangnya, banyak orang yang
tak peduli dan mengabaikan gejala-gejala itu. Mereka baru sadar dan kaget
ketika sudah jatuh terlalu dalam.

Mbak Hima yang sudah tidak bisa berfikir jernih memilih untuk mengiyakan.
Dua hari berikutnya, sekitar jam 11 malam, Mbak Hima menghubungi saya
melalui telepon. Rupanya Mbak Hima bersama suaminya sedang keluar masuk
perkampungan, dan menemui orang-orang yang sangat miskin di daerahnya.
Mereka membagi-bagikan sedekah dari uang yang disisihkan itu. Dengan isak
tangis Mbak Hima bercerita bahwa dia sangat bersyukur. Di tengah kesulitan
yang menghimpit, beliau masih bisa menolong orang lain. Ternyata Allah swt
masih begitu sayang kepadanya.

Beliau kemudian berjanji tidak akan menyerah, bertekad akan segera bangkit,
dan ingin berbuat lebih banyak untuk orang lain. Saya bisa merasakan, saat itu
keyakinan mbak Hima dan mas Saud tumbuh luar biasa. Tidak ada lagi ketakutan
dan kesedihan terdengar dalam suaranya. Yang ada hanyalah keyakinan.
Hiduplah dekat dengan tetangga dan orang-orang miskin di sekitarmu
Mendahulukan diri sendiri berarti menyisihkan sebagian dari penghasilan
untuk diri sendiri, sebelum dialokasikan untuk keperluan lain. Mendahulukan
diri sendiri berarti menempatkan sedekah dan tabungan di urutan pertama dan
kedua, sebelum keperluan lain. Mengapa? Mari kita cermati bersama.

Dalam keadaan normal sekalipun, sebelum Anda menerima penghasilan, daftar
pengeluaran sudah antri jauh-jauh hari. Kebanyakan orang mendahulukan
belanja kebutuhan konsumsi keluarga, melunasi tagihan, mengangsur utang, dan
sebagainya, baru memikirkan tabungan dan sedekah. Faktanya, menempatkan
tabungan dan sedekah setelah membayar keperluan lain adalah hal sulit.

Ah, nanti kalau naik gaji saya mau menabung. Nanti kalau dapat bonus, saya
mau sedekah. Ternyata, laju pengeluaran jauh lebih cepat dari penghasilan.
Selalu saja ada yang harus dibayar. Dengan kata lain, diri kita tidak pernah
sempat dapat bagian.

Jika Anda ingin menjadi orang kaya, begitu memperoleh penghasilan—
berapapun jumlahnya—dahulukanlah diri Anda lebih dulu sebelum membayar
orang lain. Ini prinsip dasar. Dan kita harus mampu melakukannya. Membayar
diri sendiri lebih dulu berarti bertanggung jawab kepada diri sendiri sebelum
bertanggung jawab kepada orang lain. Karena dengan bertanggung jawab
kepada diri sendiri, Anda bisa bertanggung jawab kepada Allah swt, kemudian
bertanggung jawab kepada orang lain. Mengabaikan tanggung jawab kepada
diri sendiri adalah awal dari pengabaian tanggung jawab Anda kepada Allah swt
dan kepada orang lain.

Jadi, ingat. Begitu menerima penghasilan, ada 4 pos yang harus Anda pastikan
terisi. Di sana ada tiga pos yang harus Anda keluarkan untuk diri sendiri, dan
1 pos untuk selain diri Anda. Yang saya maksud dengan penghasilan adalah
penghasilan pribadi, bukan perusahaan. Jika Anda karyawan, maka penghasilan
Anda adalah gaji. Jika Anda pemilik perusahaan, uang yang Anda ambil untuk
keperluan pribadi disebut penghasilan pribadi. Apakah Anda melakukannya?

Dari penghasilan perusahaan, yang pertama kali harus Anda bayar adalah diri
Anda dulu. Jika Anda mengambilnya setelah semua pembayaran lain dilakukan,
maka Anda tidak akan pernah kebagian uang perusahaan Anda sendiri.
Karyawan saja bisa menikmati uang perusahaan melalui gaji. Anda juga bekerja
untuk perusahaan, bukan? Jadi, biasakan menggaji diri Anda sendiri. Pastikan,
berapa rupiah yang harus Anda terima dari perusahaan untuk keperluan pribadi.
Ini WAJIB. Banyak orang bisa menggaji orang lain tetapi tidak bisa menggaji diri
sendiri.

Anda dan keluarga berhak atas perusahaan. Banyak yang lupa. Perusahaan
dibangun untuk melayani keluarga Anda, bukan keluarga Anda yang melayani
perusahaan. Dari penghasilan pribadi inilah Anda bisa mulai mengisi empat pos
yang saya maksud.

Pos 1 : Sedekah minimal 10% dari penghasilan
Alokasi yang pertama pertama adalah Giving atau sedekah. Saya sarankan,
minimal 10% dari total penghasilan pribadi. Kita sudah bahas, mana yang
disebut dengan penghasilan pribadi. Alokasikan minimal 10% untuk sedekah
dalam keadaan apapun. Dalam keadaan lapang ataupun sempit. Bersedekah
saat sempit memang bukan hal mudah, apalagi di tengah belitan utang. Tapi
tahukah Anda, justru di sinilah rahasia yang sesungguhnya. Kita sedang berbicara
tentang rahasia iman dan rahasia kekayaan, yang akan membuat keadaan kita
jauh lebih baik dari hari ini.

Di dunia ini, tak ada satu agama dan satu bangsapun yang berpendapat bahwa
sedekah akan mengurangi harta kita. Sebaliknya, keyakinan bahwa sedekah
justru akan melipatgandakan harta dan memberikan kelapangan hakiki lazim
berlaku. Menyampaikan sedekah dengan tangan sendiri kepada orang yang
membutuhkan akan menghidupkan hati kita. Hati yang hidup akan senantiasa
dipenuhi optimisme. Selanjutnya, optimisme akan menghadirkan energi positif
untuk berbagai kreatifitas, keberanian mengambil keputusan, dan prasangka
baik saat menghadapi kesulitan. Jadi, sedekah pada hakikatnya adalah membayar
diri sendiri, untuk kepentingan kita sendiri.

Rasulullah saw bersabda, “Bersedekahlah kalian, karena sedekah bisa
menambah harta dalam jumlah yang banyak. Bersedekahlan kalian, maka
Allah akan menyayangi kalian.”~ Al Wasail 6:255 hadith ke-11 ~

Pos 2 : Menabung minimal 10% dari penghasilan
Fungsi utama dari tabungan ini adalah uang yang disimpan sebagai dana
investasi. Begitu kita melihat ada peluang investasi, dana ini baru dikeluarkan.
Jadi 10% yang Anda alokasikan ini adalah untuk tabungan investasi. Bukan uang
yang Anda kumpulkan untuk yang lain, apalagi untuk hura - hura.

Begitu memperoleh income (penghasilan), berapapun besarnya, maka yang
harus Anda lakukan adalah memotong 10% nya untuk Tabungan Invetasi. Ingat!
Tabungan investasi ini adalah tiket Anda untuk menjadi kaya di masa depan.
Mentalitas orang kaya adalah mentalitas investasi. Hidup ini bukan untuk
dilewatkan begitu saja untuk konsumsi. Orang pintar menggunakan sebagian
besar waktu dan hartanya untuk investasi.

Ya. Investasi adalah ciri orang kaya, ciri orang pintar. Investasi adalah syarat
mutlak bagi semua manusia untuk bisa hidup kaya. Jadi, tabungan investasi
adalah prioritas utama, yang wajib dialokasikan lebih dulu. Bukan sisa-sisa
penghasilan, karena memang nyaris tak akan ada sisa. Jika begitu menerima
income Anda memilih membayar orang lain lebih dahulu, maka yakinlah
bahwa Anda tak akan pernah bisa menabung. Ketika Anda memutuskan untuk
membeli baju baru atau ganti handphone, sebenarnya Anda memilih membayar
untuk orang lain terlebih dahulu. Anda membayar penjual baju dan penjual
handphone. Barang-barang baru itu tak akan membuat Anda menjadi kaya
yang sesungguhnya. Anda tak akan pernah bisa momotong sekian persen pun
dari income Anda untuk tabungan investasi maupun giving.

Orang dengan mentalitas kaya sangat sadar betapa pentingnya membayar diri
sendiri terlebih dahulu. Dia pasti memotong income untuk tabungan investasi
dan giving sebelum membayar utang, memenuhi kebutuhan rumah tangga,
atau untuk keperluan keluarga. Membayar diri sendiri dahulu adalah sebuah
konsep, konsep yang sedang kita bangun untuk masa depan.

Tabungan investasi dan sedekah akan menjadi magnet yang bisa menaikkan
income. Coba dan buktikan. Tabungan investasi akan menjadi kekuatan dahsyat
yang bisa menarik uang untuk masuk ke pundi-pundi kita. Begitu pula sedekah,
bagi saya terbukti menjadi magnet dan bisa menarik income yang jauh lebih
besar. Maka, dalam kondisi apapun, sedekah atau giving mutlak dilakukan.
Tabungan Anda akan bekerja seperti magnet
Penjelasannya sederhana. Jika setiap bulan kita rutin mengulung 10 % dari
income untuk tabungan investasi, maka dalam lima tahun tabungan itu sudah
mencapai enam kali lipat dari income bulanan kita. Dengan jumlah yang cukup
besar itu, kita bisa menginvestasikannya begitu ada peluang menarik.

Dengan kata lain, tabungan investasi membuat kekayaan kita bertambah, karena
kita selalu siap jadi investor. Bayangkan ketika ada peluang, Anda tidak punya
uang cash. Bukan tak mungkin Anda akan tergoda berutang, bahkan disertai
riba. Jika investasi Anda menguntungkan, maka jejak riba akan tetap ada dalam
uang Anda. Sebaliknya, jika Anda gagal, maka jahatnya riba siap menyergap dari
berbagai penjuru.

Lain halnya jika Anda punya tabungan investasi. Dana selalu tersedia dalam
keadaan segar, siap dipakai kapanpun tanpa mengganggu pos-pos yang lain.

Pos 3 : Alokasi pelayanan keluarga
Lazimnya, tujuan orang membangun bisnis adalah memberikan kehidupan
baik untuk keluarganya. Kenyataannya, banyak juga yang justru ”kehilangan”
keluarga gara-gara bisnis. Perusahaan gagal melayani keluarga, bahkan keluarga
dituntut untuk melayani perusahaan. Perusahaan tidak menjadi mesin pencetak
uang, tetapi berkembang menjadi mesin pencetak masalah. Saya masih ingat,
betapa sesak rasanya, melihat keluarga ikut jadi korban bisnis yang salah kelola.

Padahal, posisi keluarga tidak tergantung pada kondisi perusahaan, sedang
untung atau rugi. Yang harus dibangun adalah kesadaran kita, bagaimana
menempatkan perusahaan dan keluarga pada posisi yang selayaknya. Saya
mengajak Anda untuk selalu membayar diri Anda sendiri. Alokasikan gaji untuk
diri Anda sendiri, sebelum membayar yang lain. Meskipun perusahaan merugi,
toh Anda tetap harus mengusahakan gaji untuk karyawan. Nah, mengapa Anda
tidak bisa mengusahakan untuk diri Anda sendiri?

Daripendapatan yang Anda peroleh tadi, setelah dipotong sedekah dan
tabungan investasi, pos berikutnya adalah pos untuk keluarga. Pastikan bahwa
keluarga Anda memiliki kehidupan. Jangan sampai Anda menzalimi mereka.

Saat keuangan perusahaan baik, Anda lupa untuk membangun keluarga. Saat
keuangan perusahaan semrawut, keluarga Anda ikut terseret dalam masalah.
Pastikan, dalam kondisi perusahaan seperti apapun, keluarga Anda dalam
keadaan yang baik. Stabilitas keluarga adalah energi yang sangat besar bagi
Anda untuk membangun apapun, demikian pula sebaliknya.

Pos untuk keluarga disesuaikan kebutuhan, tidak selalu berupa persentase.
Pastikan Anda nyaman dan keluarga terlayani dengan baik. Pos untuk keluarga
ini hendaknya cukup membuat anak-anak kita memiliki kehidupan yang baik,
cukup rekreasi, kehormatan, dan keceriaan.

Keluarga seharusnya menjadi pelanggan nomer satu di mata semua
pengusaha.

Pos 4 : Necessity
Inilah pos terakhir. Necessity adalah kebutuhan kita sehari-hari, mulai dari
konsumsi rumah tangga, membayar berbagai tagihan, utang, dan segala rupa
pengeluaran yang tidak termasuk dalam sedekah, tabungan investasi, maupun
pelayanan keluarga. Necessity adalah pos yang paling tidak terkendali. Pos inilah
yang paling sering membuat kita terperosok, bahkan kehilangan kehidupan.
Tantangan kita yang sesungguhnya adalah mengendalikan pos necessity agar
tetap bisa kita bayar setelah sedekah, tabungan investasi, dan pelayanan
keluarga.

Dalam kondisi keuangan seperti apapun, baik atau buruk, pos necessity harus
tetap berada di urutan terakhir. Inilah hakikat dari membayar diri sendiri terlebih
dahulu. Tanpa konsep ini, tidak akan pernah tersisa uang untuk diri kita sendiri.
Padahal, untuk membangun kekayaan, kita harus menggunakan uang yang kita
alokasikan untuk diri kita sendiri. Dengan uang sendiri, setiap langkah yang kita
ambil adalah langkah merdeka, lepas dari segala bentuk tekanan dari manapun.

Rule No.1: Never lose money.
Rule No.2: Never forget rule No.1.
~ Warren Buffett ~

Membayar diri sendiri adalah sebuah disiplin, sebuah mentalitas. Seperti apapun
keadaan Anda, sebesar atau sekecil apapun penghasilan Anda, sebanyak apapun
utang Anda saat ini, yakini dan jalankan konsep ini dengan disiplin. Konsep 4
pengeluaran inilah yang memastikan Anda bisa membangun kekayaan, dan
Anda akan menikmati kehidupan yang kaya. Berapapun penghasilan Anda,
jika Anda tidak disiplin membayar diri sendiri, maka kemungkinan besar Anda
sedang menanam kemiskinan, dan akan berakhir dengan hidup miskin.

Pos necessity dan pelayanan keluarga adalah tanggung jawab Anda terhadap
hari ini. Tabungan investasi adalah bentuk tanggung jawab kita untuk hari esok.
Tanpa membangun hari ini, kita tidak akan pernah memiliki hari esok. Sedekah
adalah tanggung jawab kita terhadap hari akhir, sebuah hari paling penting
dalam perjalanan kita menuju Allah swt. Apapun yang kita lakukan di dunia
ini akan sia-sia jika ternyata kita tidak memiliki kehidupan yang sesungguhnya,
yakni kehidupan setelah kita mati.

Tahukah Anda? Banyak orang terjebak oleh tanggung jawab terhadap hari ini
saja, dan lupa bahwa sesungguhnya kita juga harus memenuhi tanggung jawab
terhadap hari esok, terlebih hari akhir.

Dengan empat pos itu, kita jadi lebih mudah melihat, mana yang sebenarnya
menuntun kita membangun kekayaan, mana yang menjebak kita ke dalam
kemiskinan.

Apakah 4 pos itu mudah?
Menerima penghasilan adalah bagian yang sangat menyenangkan dalam
pekerjaan. Uang di tangan, berada di dalam kekuasaan kita. Apakah kita
penguasa yang bermental miskin atau kaya? Apakah kita bisa dengan tegas
memotong 3 pos pertama, atau tergiur untuk mendahulukan pos ke-4?

Bagi sebagian orang, disiplin melakukan giving sangat berat. Perlu kesungguhan
dan keyakinan untuk bisa sedekah setiap kali menerima penghasilan. Jika angka
10% dianggap terlalu berat, sedekah bisa dilakukan dari angka paling kecil.
Bulan berikutnya, angka itu harus meningkat dua kali lipat. Demikian seterusnya
setiap bulan, hingga mencapai angka 10%.

Pak Tomo yang berprofesi sebagai office boy dengan berpenghasilan satu juta
per bulan tentu merasa berat jika harus bersedekah dan menabung masing-masing
seratus ribu. Karenanya, Pak Tomo bisa memulainya dari angka sepuluh
ribu, dan meningkat terus di bulan berikutnya, hingga mencapai dua ratus ribu.
Manusia itu makhluk ajaib. Pembelajar alami. Jika dia bisa hidup dengan sejuta
per bulan, maka dengan disiplin berlatih, dia akan bisa hidup dengan delapan
ratus ribu saja. Mungkin beberapa keinginannya harus ditangguhkan, namun
dia memiliki hati yang lapang karena sedekah, dan mentalitas kaya karena
punya tabungan investasi. Anda mau mencoba? Begitu memulainya, Anda akan
segera merasakan energinya, dan ketagihan melakukannya.

Anda akan merasakan nikmatnya displin bersedekah. Dalam keadaan lapang
atau susah, jika seseorang meyakini hukum kekekalan energi, sedekah tetap
akan dilakukannya.

Saat bangkrut, penghasilan saya hanya berasal dari menjual barang yang
masih tersisa. Proyek sudah tidak ada, semua macet. Sebuah buldozer saya jual
dengan harga 1 miliar rupiah. Ketika saya hendak memotongnya untuk sedekah
dan tabungan investasi, banyak teman dan anak buah protes. Kondisi keuangan
perusahaan sangat lemah. Ada teman menyatakan bahwa membayar utang
hukumnya wajib, sedangkan sedekah itu sunnah. Jadi saya harus bayar utang
dulu.

Tunggu!
Utang saya 62 miliar. Penghasilan saya 1 miliar. Kalau uang itu saya gunakan
untuk bayar utang, berapa ”sisa” utang saya? Nyaris tak bergeser. 61 miliar
rupiah itu masih saja besar. Kalau saya mati, saya tetap punya utang sejumlah
itu, sementara saya dan keluarga tidak punya bekal apa-apa.

Jadi yang saya lakukan dengan penghasilan Rp 1 miliar itu adalah memotongnya
10% untuk tabungan investasi, dan 20% untuk sedekah. Uang saya sisa Rp 700
juta. Alokasi berikutnya adalah keperluan keluarga dan necessity lain. Di dalam
necessity itu tercakup utang yang bisa saya bayar, yaitu Rp. 500 juta. Dengan
demikian, utang saya jadi Rp 61,5 miliar. Memang sangat besar. Tetapi setidaknya,
jika saya mati besok, saya punya amal baik karena bersedekah. Begitulah cara
saya berfikir. Sederhana saja.

Lebih jelasnya, alokasi penghasilan saya yang Rp. 1 miliar adalah:
Sedekah Rp. 200 juta
Tabungan Rp. 100 juta
Keluarga Rp. 50 juta
Necesity Rp. 650 juta
Tetap melayanianak-anak dikala tersulit sekalipun
Dalam kondisi apapun, saat terlilit utang sebesar apapun, mengatur income
adalah mutlak. Inilah yang disebut Money Management. Memotong penghasilan
untuk giving dan tabungan investasi tetap harus dilakukan. Ini berlaku bagi
siapapun yang ingin membangun kekayaan yang sesungguhnya.

Saya tegaskan lagi, sebelum utang-utang kita angsur, dan kebutuhan keluarga
dialokasikan, sisihkan dulu sebagian dari income untuk sedekah dan tabungan
investasi. Ingat, yang kita sisihkan untuk sedekah dan tabungan ini bukan
sekedar catatan, tetapi uang cash. Memotong penghasilan untuk tabungan
investasi dan giving bukan masalah hitung-hitungan kalkulatif. Kesediaan
dan disiplin melakukannya persoalan mindset dan mentalitas. Jika Anda biasa
menghabiskan seluruh penghasilan, maka sebesar apapun kelipatan yang Anda
terima pasti akan habis juga.

Tabungan investasi disimpan untuk keperluan investasi dan bukan untuk
keperluan yang lain
Sekali Anda mengambil tabungan investasi untuk keperluan selain investasi,
maka Anda tak akan pernah punya tabungan investasi. Misalnya, Anda telah
bekerja sepuluh tahun. Dengan sekian persen yang Anda sisihkan setiap bulan,
kini simpanan tabungan investasi Anda ada Rp 1 milyar. Sekali saja Anda
mencuilnya untuk selain investasi, walau Rp 2 juta saja misalnya, maka dalam
waktu kurang dari dua tahun, seluruh tabungan investasi Anda akan habis!

It’s all about your mentality. Mentalitas menyunat tabungan investasi sendiri
adalah mentalitas orang miskin. Jadi, stop mencari dalih untuk menggerogoti
tabungan, dan menilap sedekah. Kebiasaan berinvestasi adalah kunci
membangun kekayaan yang sesungguhnya. Sebagian orang berpendapat
bahwa membangun kekayaan berbanding lurus dengan besarnya penghasilan.
Jika penghasilan kita besar, maka kita akan kaya. Faktanya, banyak orang yang
dulu berpenghasilan luar biasa besar kini hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya,
banyak juga pengusaha besar yang mengawali usahanya dari gerobak dorong
di kaki lima.

Orang yang belum merdeka secara ekonomi kemungkinan besar belum
merdeka dalam kehidupan.

Menjadi kaya atau miskin berbanding lurus dengan cara kita memperlakukan
uang, bukan jumlah digitnya. Membangun kekayaan berarti kemampuan kita
mengeksekusi 4 mesin kecerdasan ini dengan benar :

1. Meningkatkan penghasilan
Teman saya lulusan jurusan Akuntansi dari sebuah perguruan tinggi
ternama di Jakarta. Awalnya, dia bekerja sebagai profesional di perusahaan
perbankan. Setelah mencapai karier puncak di usia yang relatif masih muda,
ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan kontraktor. Tahun 2003,
berdirilah perusahaannya, dengan modal awal sebesar Rp 25 juta. Perlahan
namun pasti, perusahaan itu berkembang. Pada tahun 2005, aset perusahaan
melonjak menjadi Rp 750 juta. Setahun berikutnya, asetnya berkembang
pesat hingga Rp 1,5 miliar. Rupanya, teman saya itu sangat pandai menaikkan
income. Tahun 2007, asetnya naik dua kali lipat, menjadi Rp 2,9 miliar. Dia
mulai membuka cabang di sejumlah tempat, dan jumlah karyawan pun
bertambah. Pada tahun 2008, dia membukukan aset sebesar Rp 5 miliar, dan
tahun 2009 ditutupnya dengan aset Rp 14 miliar.

Fantastis? Tunggu dulu!
Suatu ketika dia mendatangi saya dan meminta nasihat. “Saya dipandang
kaya oleh banyak orang. Padahal, yang saya rasakan justru sebaliknya. Begitu
usaha membesar, saya mulai kesulitan. Untuk sekedar menuju break event
point pada setiap bulannya, saya harus berjuang habis-habisan. Meski aset
banyak dan penghasilan banyak, kewajiban yang harus saya tanggung juga
besar. Jangankan untung berlipat, BEP saja sangat susah.”

Begitulah pengakuannya ketika bertemu saya pertengahan 2010 yang lalu.
Dia memprediksi, jika kondisi itu dibiarkan berlarut-larut, perusahaannya
akan ambruk dan tutup dalam satu atau dua tahun ke depan. Ternyata, dia
banyak menggunakan uang dari orang-orang yang disebutnya “investor”.

Untuk “investasi” itu, mereka membebankan bunga tetap antara 2% - 5%,
bahkan ada yang sampai 15%.

Miris sekali. Keadaan seperti ini sering saya temui di kalangan pengusaha
kita. Bahkan untuk mendefinisikan istilah “investor” pun banyak yang salah.
Investor bukan pihak yang meminjamkan modal dengan konsep bunga
tetap. Investor menyertakan modalnya dalam suatu usaha dengan konsep
bagi hasil dan bagi resiko. Pendek kata, yang dimaksud “investor” oleh teman
saya ini sebenarnya adalah rentenir. Sikap saya jelas. Rentenir adalah riba,
dan karenanya haram didekati.

Banyak orang yang datang kepada saya dengan kondisi seperti yang dialami
kontraktor itu. Mereka mampu mendapatkan income yang besar, namun
tidak mampu membangun kekayaan. Mereka berpikir bahwa besarnya
income adalah satu-satunya cara membangun kekayaan.

Salah besar!
Walaupun paham dan mampu meraup income yang besar, tanpa diimbangi
pengetahuan dan mentalitas kaya, akan percuma. Sebaliknya, kondisi
keuangan mereka akan semakin memburuk, hingga harus dikejar-kejar klien,
bahkan debt collector. Bisa jadi, semua paham bagaimana konsep menaikkan
penghasilan atau income. Semua orang mungkin tahu cara menaikkan
pemasukan, memacu penjualan, atau mengumpulkan klien yang banyak.
Income juga bisa berasal dari gaji, pemberian dari orang lain, bahkan warisan.
Namun tingginya penghasilan tidak serta merta membuat kita menjadi lebih
kaya. Ada 3 mesin kecerdasan lain yang harus kita bangun.

2. Menabung
Tidak semua orang bisa menabung, berapapun besar atau kecilnya
penghasilan mereka. Menabung atau tidak bukan persoalan besar atau
kecilnya penghasilan, tetapi persoalan pemahaman seseorang tentang uang,
tentang membangun kekayaan. Menabung adalah perilaku wajib dimiliki
oleh orang yang ingin membangun kekayaan. Menabung adalah sebuah
perilaku yang pasti dimiliki oleh orang kaya. Nah, sekarang lihat rekening Anda!

Mungkin Anda menyamakan tabungan dengan dana cadangan, yang bisa
Anda ambil ketika diperlukan. Misalnya untuk biaya rumah sakit, atau sekedar
jalan-jalan mengantar teman yang mendadak datang. Bukan uang cadangan
seperti itu yang saya maksud. Tabungan yang saya maksud di sini adalah
tabungan yang kita persiapkan hanya untuk investasi. Jika kita merasa perlu
mengumpulkan uang untuk keperluan lain maka gunakan tabungan yang
lain. Orang yang tidak terbiasa menabung tidak terbiasa berinvestasi. Dalam
banyak hal investasi membutuhkan uang yang cukup, dan mengandung
resiko. Berhasil itu resiko, gagal juga resiko. Anda tak ingin terjerat utang dan
riba karenanya. Jadi, pastikan hanya tabungan investasi yang Anda gunakan
untuk investasi.

3. Berinvestasi
Bertindak ketika ada peluang bagus, itulah hakikat investasi. Ini juga masalah
karakter. Orang yang tak pernah berpikir tentang investasi tak akan bisa
melihat peluang sebagus apapun. Dia cenderung menghabiskan uang yang
dimiliki seberapapun besarnya. Orang yang memiliki mindset investasi akan
selalu bertemu peluang yang bagus, karena dia melihatnya.

Dengan uang segar di tangan, Anda akan bisa melihat peluang investasi
dengan optimis namun cermat. Anda tidak perlu membabi buta cari untung,
karena uang yang Anda gunakan bukan uang utangan yang harus Anda cicil
setiap bulan berikut bunganya.

Investasi adalah sebuah pola pikir dan perilaku. Perilaku biasa berinvestasi
ini membuat orang semakin kaya yang sesungguhnya. Penghasilannya akan
semakin bertambah dari investasi yang dia lakukan. Itulah mengapa orang
kaya akan menjadi semakin lebih kaya. Orang yang terbiasa berinvestasi pasti
terbiasa menabung, dan menghargai uang yang dimilikinya.

4. Simplicity
Simplicity adalah menjaga gaya hidup sederhana, hidup semurah mungkin,
menghindari cara hidup boros. Mengapa banyak orang yang pintar
meningkatkan penghasilannya, tetapi tetap tidak bisa menabung? Karena
begitu penghasilannya meningkat, gaya hidupnya ikut meningkat, bahkan
dua kali lebih cepat. Mentalitas seperti ini tak pernah mengantarkan orang
menjadi lebih kaya.

Simplicity sangat vital dalam membangun kekayaan. Tanpa simplicity,
penghasilan yang Anda peroleh hanya akan cukup untuk membayar gaya
hidup Anda. Anda terlihat kaya, namun kejatuhan hanyalah soal waktu. Tanpa
simplicity, kaya yang sesungguhnya hanya sebuah angan-angan.

Hidup itu sederhana, manusia sendiri yang membuatnya menjadi rumit.


Baca Juga :

Strategi Membangun Kekayaan Tanpa Riba Part1

PERTANYAAN 1
SEBERAPA BESAR KAPASITAS YANG ANDA SIAPKAN?

Agar bisa fokus ke bisnis yang baru saya kelola, jabatan nyaman di sebuah
perusahaan saya tinggalkan. Saya yakin akan berhasil. Namun ternyata, harapan
itu tak mudah terwujud. Bisnis yang saya bangun selama 2 tahun lebih itu
sebelumnya memang berkembang pesat, dan baru saja saya mengambil proyek-proyek
baru yang cukup besar, saya kena hantam. Dua proyek dihentikan sepihak
oleh customer karena persoalan internal mereka. Padahal, investasi yang saya
tanam untuk proyek itu sangat besar.
Usaha alat-alat berat bali muda
Usaha Alat-Alat Berat Bali Muda
Situasi bisa sangat berbahaya, karena dana investasi saya berasal dari kredit
bank yang baru beberapa bulan berjalan. Keruwetan bertambah ketika salah
satu customer besar saya tak bisa membayar tagihan yang sangat besar.
Satu persatu anak buah berpaling. Saya bukan lagi atasan dan teman yang
menguntungkan bagi mereka. Tak ada yang ingin kena getahnya. Beban finansial
yang berat ini diperkeruh oleh debt collector yang terus berdatangan menagih
utang. Itulah titik terberat dalam hidup saya. Saat itu, teguran dari Allah terasa
begitu nyata.

Beberapa saat sebelumnya, istri saya sempat mengeluh bahwa saat bisnis maju,
saya berubah menjadi orang lain. Saya bahkan menjadi orang asing, yang tidak
dia kenal sebelumnya. Sebagai suami dan ayah, saya kehilangan kelembutan,
empati, bahkan nyaris kehilangan kepemimpinan yang sesungguhnya.

Perubahan itu terjadi di masa-masa awal bisnis berjalan. Saya jadi kurang peka,
dan kurang peduli terhadap keluarga dan karyawan.
Bisnis yang saya gadang sebagai mesin pencetak uang justru jadi mesin
pencetak masalah, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Karyawan tak
jujur, serangan tagihan tanpa kendali, penghasilan yang tidak pasti, dan keluarga
yang terlupakan.

"Tidak ada gunanya berlari jika salah arah, tak ada gunanya kerja keras jika
tanpa tujuan."

Saat itu, saya tak pernah tidur nyenyak, apalagi bangun segar di pagi hari. Tiada
hari tanpa deg-degan dan perasaan gamang. Tenaga selalu habis terkuras, lelah
sekali. Ingin rasanya meninggalkan semua urusan, dan melepaskan diri dari
keadaan seperti ini.

Pahitnya, melepaskan diri dari lilitan masalah ini tidak mudah. Sebaliknya, saya
terperosok ke masalah demi masalah baru. Semakin dalam, semakin tidak jelas
ujungnya. Sempat saya pertanyakan, mungkinkah Allah hendak mengajarkan
sesuatu? Selama ini saya begitu percaya diri dengan apa yang saya lakukan.
Tapi hantaman ini membuat saya terjungkal ke titik yang tak menyisakan tempat
untuk kepandaian saya. Tak ada lagi yang bisa saya banggakan dalam diri saya.
Benar-benar nol. Saya perlu waktu untuk merenung. Semoga belum terlambat.

Melalui perenungan dan instrospeksi, saya menyimpulkan bahwa ternyata
persoalan yang saya hadapi bukanlah di luar sana. Problem saya bukan tumpukan
utang, bukan customer, bukan karyawan, bukan yang lain-lain. Sumber masalah
yang sesungguhnya adalah diri saya sendiri. Ada banyak hal yang harus saya
definisikan ulang. Ini terjadi 4 tahun sejak saya membangun pertama kali bisnis
alat-alat berat.

Beberapa pandangan saya selama ini ternyata salah, dan menjadi penyebab
utama kegagalan yang saya alami. Jelas bahwa saya wajib membangun
kembali konsep diri, mentalitas, perilaku, kepemimpinan, keyakinan, kesabaran,
keterampilan, dan yang paling penting adalah ketaatan saya kepada Allah swt.

Hubungan saya dengan Allah swt harus saya perbaiki. Siapa tahu, banyak
perbuatan saya—sadar atau tanpa sadar—ternyata tidak diridhoi Allah.
Saya harus memperbaiki hubungan dengan keluarga yang selama ini banyak
saya abaikan. Jangan-jangan mereka tidak sepenuhnya ridho dengan apa yang
saya lakukan selama ini. Saya juga harus memperbaiki kepemimpinan saya.
Mungkin karyawan saya tidak bisa bekerja sesuai harapan bukan karena mereka
tidak berkualitas, namun karena kepemimpinan saya buruk.
Saya memutuskan untuk berubah total, bangkit dan membangun diri saya
yang baru. Perlahan namun pasti, saya semakin memahami bahwa biang kerok
kegagalan itu benar-benar diri saya sendiri. Seiring dengan kesadaran saya,
sesuatu yang luar biasa mulai tumbuh dan mengakar kuat: keyakinan.

Saya yakin bahwa perubahan itu akan segera terjadi, karena yang harus saya
ubah bukan orang lain. Mengubah orang lain mungkin sulit, jika saya tak punya
kuasa atas dirinya. Jadi, mengubah diri sendiri seharusnya lebih mudah, karena
sedikit banyak saya berkuasa atas diri saya.

Saya mengubah diri dan cara hidup secara radikal dengan bertanya kepada diri
saya sendiri :
• Apa yang harus saya ubah, untuk menggapai keredhoan Allah SWT?
• Apa yang harus saya ubah, agar keluarga saya bangga kepada saya?
• Apa yang harus saya ubah, agar tim saya bangga kepada saya?

Dulu, saya seperti pemain bola yang mencurahkan seluruh energi untuk
menjawab pertanyaan secara brutal “Bagaimana caranya menang? How to win?
How to win?” Nyaris tidak ada pertanyaan lain. Dalam desakan ambisi seperti
itu, tanpa terasa, banyak hal yang saya langgar saat mengejar target. Kini,
saya menemukan sebuah pertanyaan yang jauh lebih pas untuk saya sendiri,
“Bagaimana saya harus bermain dalam paruh kedua kehidupan saya ini?”.

Saya mulai mencari jawaban, dan menghidupkannya setapak demi setapak. Berat
memang, karena ternyata berhadapan dengan ego sendiri adalah perjuangan
yang maha berat. Namun demikian, di luar dugaan, teman, karyawan, dan
keluarga menyatakan terharu melihat perubahan dalam diri saya. Kian saya
sadari, ternyata banyak orang yang menunggu saya berubah.

As for those that have faith and do good works, God will bestow on them
their rewards and enrich them from his own abundance.
(Alquran, Annisa, 4:173).

Saya merasa lahir kembali. Perubahan itu memang tidak serta merta mengikis
habis kesulitan yang saya hadapi. Tapi kini saya memandang kesulitan itu
dengan cara yang jauh berbeda.

Dua tahun sejak kejatuhan yang pertama itu, saya berada pada titik yang sangat
kritis. Ketika itu, di Jambi, di hadapan 50 anggota tim senior yang terdiri dari
direksi, general manager, manager, dan supervisor perusahaan saya, terlontarlah
kalimat yang tak pernah saya lupakan hingga hari ini.
“Saudara-saudara sekalian. For me, today is the most interesting phase in my life.
Hari ini adalah sebuah fase hidup yang paling menarik bagi saya, karena saya
tidak pernah mengalami kesulitan seperti ini sepanjang hidup saya.”

Heppy trenggono
Tim Bali Muda: Mengurai Benang Kusut
Dalam hati saya berbisik “Ya Allah, aku ingin segera melihat seperti apa akhir
dari cerita ini, sebagaimana Engkau janjikan kepada orang-orang yang mau
bertaqwa kepadaMu”.

Tiga minggu setelah pertemuan di Jambi, perusahaan berhenti total. PHK besar-besaran
membuat ribuan orang yang selama ini menggantungkan nasibnya ke
perusahaan saya harus menghadapi kenyataan pahit. Beberapa karyawan yang
panik mengambil barang milik perusahaan, bank-bank pemberi kredit kaget
setengah mati. Bagaimana tidak? Kucuran dana yang tidak sedikit ke perusahaan
saya terancam macet. Urusan dengan para supplier terbengkalai, sebagian
belum menyadari gawatnya situasi yang mereka hadapi. Aset perusahaan
tercerai berai. Saya benar-benar roboh.

Di saat genting seperti ini, beberapa teman menyatakan simpati. Mereka
menyatakan hendak membantu menyelamatkan aset perusahaan, termasuk
mengajukan tawaran sewa. Belakangan baru saya tahu bahwa beberapa justru
memanfaatkan keadaan ini dan mengkhianati persahabatan kami.

Puncak kejatuhan saya menyisakan Rp. 62 milyar utang kepada bank, leasing,
supplier, bahkan rentenir! Uang tunai sebesar 8 milyar milik istri saya, yang dia
kumpulkan bertahun-tahun dengan susah payah ikut ludes.

Dalam keadaan terpuruk seperti itu, tak ada bayangan sama sekali bagaimana
saya akan membayar semua utang. Tak ada penghasilan sama sekali, apalagi
tabungan. Uang perusahaan yang ada di luar, termasuk yang dipinjam teman
tidak bisa ditarik begitu saja. Ajaib. Saat perusahaan lancar, piutang bisa ditagih
dengan mudah. Sebaliknya, ketika piutang itu jadi andalan penyambung hidup,
semua pintu seolah tertutup.

Seorang teman baik yang pernah membangun bisnis dengan bantuan 1,4 milyar
dari saya, dan berutang beberapa ratus juta justru balik mengancam. Dia akan
membunuh saya dengan dalih tidak suka jika saya menagih utang kepadanya.
Itulah ironi pahit yang harus saya telan.

Dalam keadaan segalau itu, Allah mengajarkan kata “sabar” yang selama ini jauh
dari diri saya. Dengan yakin saya katakan kepadanya “Mas, uang yang Anda
ambil tidak akan membuat saya tambah miskin, tetapi juga tidak akan membuat
Anda tambah kaya. Silakan ambil uangnya, saya yang ambil keberkahannya”.

Pengkhianatan dari sahabat dekat bukan apa-apa. Begitu pula utang 62 miliar.
Saya yakin sepenuhnya bahwa semua akan teratasi. Saya sangat percaya karena
Allah telah menjanjikan jalan kebaikan melalui firman-Nya. Saat punya utang 62
miliar, saya yakin Allah telah menyiapkan kekayaan yang jauh lebih besar dari
angka itu. Saya percaya, penyelesaian akan terjadi atas campur tangan Allah
yang melihat kesungguhan dan keikhlasan dari hamba-Nya.

Persoalan berat yang saya alami tidak mungkin saya selesaikan dengan pola
pikir lama. Ini berlaku bagi siapapun. Kita tidak akan bisa menyelesaikan
masalah dengan pola pikir yang kita miliki saat masalah itu terjadi. Kita hanya
bisa menyelesaikan masalah dengan cara berpikir yang lebih tinggi dari yang
selama ini kita lakukan. Artinya, ubah cara berpikir ke tingkat yang lebih tinggi!
Setinggi apa?

Saya mulai terjun di bisnis rumah makan tahun 1999. Saat itu, saya baru
saja bangkrut dari bisnis beras, yang saya warisi dari orangtua. Bisnis yang
sudah besar dan sukses itu hancur di tangan saya. Bayangkan, usaha saya
di Garut memiliki jaringan hingga di Cipinang, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Selain jaringan di sejumlah gerai dan beberapa perumahan, saya juga
punya pabrik penggilingan padi seluas dua atau tiga ribu meter persegi.
Sejumlah truk dan empat puluh karyawan setiap hari beroperasi untuk
setor uang.
Kemudian saya salah langkah. Utang saya menumpuk, dan banyak orang
datang menagih pembayaran. Saya stress berat, harta habis dipakai untuk
menutupi tagihan dan utang. Yang tersisa hanya tinggal baju di badan.

Masa itu memang pahit, tapi saya tidak menyerah. Saya memperbaiki diri
dan kembali bangkit. Saya melihat ada peluang di bidang rumah makan
khas Sunda. Dengan berkaca pada pengalaman pahit yang sudah saya
alami, kini Rumah Makan Cibiuk kian maju. Jaringannya kian meluas
hingga 41 lokasi di berbagai kota di Jawa Barat bahkan luar jawa.

Saya pernah gagal dan mengecewakan banyak orang karena kesalahan
yang saya lakukan sendiri. Sayalah yang harus memperbaikinya.

~ H. Iyus Ruslan, owner RM Sambal Cibiuk, Dewan Pembina Indonesian
Islamic Business Forum (IIBF) Jawa Barat ~

(Sumber : “Dari Garut, Sambal Cibiuk Meliuk sampai ke Aceh, Yuyun
Manopol, Majalah Swa)

Banyak orang berpendapat bahwa agar kapal bisa berlayar, maka jangkar harus
diangkat seluruhnya ke buritan. Pandangan itu bisa jadi benar, tapi tidak tepat.

Untuk membuat kapal bisa berlayar, jangkar cukup diangkat beberapa sentimeter
saja dari dasar laut. Selama jangkar tidak menyangkut dasar samudra, kapal
sudah bisa digerakkan. Jadi, untuk menyelesaikan masalah, kita hanya perlu
memiliki cara berpikir sedikit lebih tinggi.

Sering kita saksikan, ketika seseorang tertimpa masalah seolah-olah hidup
menjadi gelap sama sekali, dan tak ada lagi jalan keluar. Rentetan keluhan
menunjukkan nyali yang ciut, karena orang yang mengatakannya merasa lebih
kecil dari masalah yang dihadapi. Dia lupa satu hal: masalah timbul karena
ulahnya sendiri, jadi semestinya dia juga bisa menyelesaikan.

Ingatlah. Ketika Anda merasa lebih kecil, otomatis masalah itu akan terasa
semakin besar. Padahal, masalah yang Anda hadapi ya yang itu-itu juga. Mudah
atau sulitnya, dan lama atau cepatnya Anda memecahkan masalah tidak
tergantung pada seberapa besar atau kecilnya masalah yang Anda hadapi. Yang
menentukan adalah bagaimana Anda melihat masalah, dan bagaimana Anda
menempatkan diri terhadap masalah itu.

Memiliki kehidupan yang kaya atau miskin adalah sebuah mentalitas, Orang
dengan mentalitas kaya seharusnya meyakini bahwa Allah tidak mungkin
mendatangkan sesuatu yang kita tidak mampu memikulnya, meyakini bahwa
kita masih lebih besar dari masalah yang kita hadapi.

Suatu hari saya bertemu dengan seorang teman utangnya sangat besar, jauh lebih besar dari utang saya waktu itu. Tapi dia tetap enjoy dengan keadaannya. Artinya, utang tidak membuat
dirinya kehilangan jati diri. Lilitan utang itu dia hadapi dengan mentalitas kaya.
Itulah yang disebut kapasitas diri.

Di kesempatan lain, saya mendengar cerita tentang seorang direktur utama
perusahaan penerbangan di tanah air yang baru menjabat. Suatu saat, dia
berhadapan dengan bank asing yang marah besar ketika proses negosiasi
pembayaran utang perusahaan bermasalah. Sang direktur utama dengan
enteng berkata kepada pejabat bank itu, “Lho, Saya ke sini untuk menyelesaikan
masalah Anda! Kalau Anda tidak suka, saya akan pergi!”

Itulah pola pikir orang yang memiliki kapasitas diri. Pihak bank tidak akan
semena-mena kepadanya, dan justru memperlakukan orang sebagaimana
mestinya. Bank berkepentingan dengan kembalinya uang. Jika orang yang
berutang tidak kooperatif, maka kredit bisa dipastikan macet.

Memperbesar wadah, adalah memperbesar kapasitas diri kita sendiri. Problem
itu berada di depan kita. Itu faktanya. Untuk bisa bergerak menghadapi
kenyataan itu, kita harus merasa lebih besar dari masalah. Jika tidak, maka kita
tidak memiliki energi yang cukup untuk menyelesaikannya. Setiap langkah akan
serba canggung bahkan sangat berat.

Sejatinya, saat dihadapkan pada suatu masalah, yang kita perlukan adalah
power atau kemampuan untuk bergerak, bukan melulu kemampuan untuk
menyelesaikan masalah. Power itu akan muncul jika kita yakin bahwa kita lebih
besar dari tantangan apapun. Keyakinan itulah yang harus kita bangun. Semakin
kokoh keyakinan kita, maka kemampuan kita untuk bergerak akan semakin kuat.

Setelah jatuh karena kisruh dengan pandangan yang salah, kini yakin bahwa
saya lebih besar dari masalah yang saya hadapi. Keyakinan itu bersumber pada
janji Allah swt, bahwa Dia tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai
kemampuannya. Jadi saya yakin saya bisa melewatinya.

Dengan rendah hati saya genggam erat motto sederhana, terinspirasi dari sabda
Rasulullah saw “Hidup mulia atau mati syahid”. Saya ingin memiliki kehidupan
yang mulia, atau paling tidak jika saya mati maka saya mati dalam keadaan
memperjuangkan kemuliaan. Itulah komitmen saya, dan menjadikannya sebagai
sesuatu yang unegotiable. Tak bisa ditawar. Komitmen itu meneguhkan sebuah
nilai, yakni bentuk keimanan kepada Sang Khaliq. Saya percaya sepenuhnya apa
yang dikatakan oleh Allah.

Selama 33 tahun terakhir, aku selalu bercermin setiap pagi
dan bertanya, “Jika hari ini adalah hari terakhirku, apakah aku akan
melakukan perbuatan yang saat ini kulakukan?” Dan jika dalam beberapa
hari berturut-turut jawabannya adalah “tidak,” maka aku harus berubah.
Mengingat bahwa suatu hari aku pasti mati adalah caraku melepaskan
diri dari ketakutan akan kehilangan. Saat itu aku sudah tak punya apa-apa. 
Jadi, tak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hatiku.
~ Steve Jobs ~

Apa yang digariskan oleh Tuhan bagi manusia tentu yang terbaik. Namun
seringkali kita sulit sekali memahaminya. Mengapa kita tidak mendapatkan apa
yang kita inginkan?

Hidup jadi semakin tidak menentu karena kita salah dalam berkomunikasi.
Apa yang kita katakan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain berbeda
dengan yang kita inginkan. Kita ingin sukses, tetapi yang kita katakan adalah,
“Sepertinya saya tak mungkin meraihnya”. Kita ingin anak kita pintar dan sholeh,
tetapi ucapan yang sering kita lontarkan kepadanya adalah “kamu kok nakal
sih!”.

Jadi, apapun yang sungguh-sungguh kita inginkan harus dikomunikasikan
dengan benar. Apa impian kita, ingin jadi apa kita dalam hidup ini, apa yang ingin
kita lakukan sebelum mati, apa yang ingin kita miliki sebelum mati, hanya akan
terwujud jika terjadi Total Communication atau komunikasi total.

Komunikasi total adalah sebuah cara untuk mengawali proses memperbesar wadah.
Dengan komunikasi total kita mempersiapkan diri untuk menampung semua
keinginan itu, dan pada saatnya tercapai, kita tak akan salah mengelolanya.
Komunikasi total artinya bagaimana kita berkomunikasi kepada diri kita sendiri,
berkomunikasi kepada Allah, dan berkomunikasi kepada orang lain. Jika kita
bisa berkomunikasi total dengan baik, maka kita akan lebih siap meraih semua
mimpi, menyelesaikan berbagai masalah, dan melewati berbagai tantangan.

Komunikasi dengan diri sendiri atau Self communication, merupakan proses
komunikasi yang sangat fundamental. Jika kita salah berkomunikasi dengan
diri sendiri maka seluruh komunikasi kita kepada Allah dan kepada orang lain
akan salah. “Berbicaralah sesuatu yang baik, meskipun kepada dirimu sendiri”
itulah pesan Rasulullah yang ditulis pada sebilah pedang milik beliau. Self
communication mensyaratkan kita melakukan critical thinking, berfikir secara
kritis dan mendalam, atau bertafakur. Self communication bertujuan untuk
membangkitkan kesadaran tentang siapa diri kita, mau kemana sebenarnya
diri kita ini, siapa yang sesungguhnya berkuasa, dan apa yang seharusnya kita
lakukan.

Jadi, mengenali diri sendiri adalah awal dari semuanya. Kita perlu membongkar
secara radikal, apa yang kita ketahui dan tidak kita ketahui tentang diri sendiri.
Apa yang kita harapkan dan apa yang sesungguhnya kita takutkan, apa hal utama
yang kita kejar dalam hidup ini, dan apa yang pernah kita lakukan selama
ini. Perbuatan di masa lalu dan apa yang kita inginkan untuk masa depan juga
menunjukkan siapa diri kita.

Seseorang yang melakukan self communication akan memiliki keyakinan yang luar biasa,
haqqul yakin atas semua yang dijanjikan Allah. Dan hanya kita sendiri
yang bisa menjawab, apakah kita telah berhasil melakukannya, atau masih harus
kembali merenung untuk mengenal diri sendiri.

Communication to Allah, komunikasi dengan Allah swt. Inilah “dialog”
antara diri kita dengan Sang Khaliq. Dialog inilah yang menentukan intensitas
kedekatan kita dengan Allah. Kita sering menyebutnya dengan berdoa. Kali
ini, doa yang saya maksud adalah doa dengan konsep dialog, yang bertujuan
memberikan ruh dalam proses berdoa itu sendiri. Harapannya, kita bisa
membangkitkan kedekatan dan cinta kepada Allah swt.

Selesai shalat, berdzikir, dan membaca doa-doa rutin, bicaralah kepada Allah
dengan kerendahan hati.

“Wahai Allah yang maha pengasih dan penyayang, inilah hambamu ya Allah,
Heppy Trenggono bin Kodiri. Seorang hamba yang engkau lahirkan melalui rahim
seorang Ibu yang bernama Siti Amariyah. Malam hari ini hamba menghadap
kehadiratmu ya Allah. Malam hari ini hamba kembali datang untuk memohon
ampunanMu, kembali datang untuk menyerahkan diri kepadaMu. Ya Allah,
Engkau maha mengetahui apa yang ada dalam dada hamba. Tak ada yang
hamba harapkan kecuali keridoanMu. Ya Allah, inilah hambaMu yang pada saat itu 
berikrar di depan multazam, .........”

Dialog dengan Allah semacam itu akan melembutkan hati, sekaligus
menajamkannya. Yakinlah bahwa Allah akan menjawab dengan bahasaNya; dan
dengan hati yang bersih, kita akan bisa merasakannya. Seseorang yang banyak
berdialog dengan Allah akan hidup hatinya. Hidupnya hati juga ditandai empati
kita ketika melihat kesulitan orang lain. Orang yang hidup hatinya mudah
menangis saat melihat orang lain dalam kesulitan, namun tidak serta merta
menangis ketika dirinya ditimpa kesulitan. Sebaliknya, orang yang mati hatinya
selalu mengeluh dan menangis ketika tertimpa kesulitan, tetapi tak peduli saat
melihat kesulitan orang lain.

“Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir.
Allah lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan.
Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri. Siapa yang meminta
ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni.”~ HR Bukhari dan Muslim ~

Communication to others, komunikasi dengan orang lain. Sebagai jembatan
keberhasilan, meningkatkan ketrampilan berkomunikasi dengan orang lain
adalah kemestian. Melalui komunikasi efektif dengan orang lain, maka perkataan
kita akan didengar dan diikuti. Namun demikian, komunikasi kepada orang lain
tidak akan efektif selama komunikasi kita terhadap diri sendiri masih salah.
Keterampilan komunikasi dengan orang lain harus kita miliki, karena manusia
tidak bisa hidup seorang diri. Allah memberikan pertolongan kepada kita tidak
secara langsung, dalam banyak hal melalui perantara orang lain.
" Total Communication", Keahlian yang harus dimiliki setiap orang

Prinsipnya, mengenali diri merupakan prasyarat untuk mengenali Tuhan. Dan
semakin kita mengenal Tuhan, maka kita akan semakin merasa kecil di hadapan-
Nya. Ketergantungan kita kepada manusia akan terkikis, seiring kian kokohnya
hubungan kita dengan Allah. Dengan keyakinan bahwa Allah selalu bersama
kita, maka setiap langkah akan kita ambil dengan percaya diri. Di saat yang
sama, komunikasi dengan orang lain juga akan efektif.

Dari beberapa langkah perbaikan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa
untuk menyelesaikan masalah, memecahkan tantangan, atau mencapai impian
kita, yang dibutuhkan hanya dua hal: kemauan berpikir dan kemampuan
bergerak. Artinya, kecerdasan sesungguhnya adalah seberapa besar kemauan
kita untuk berfikir, dan seberapa besar kemampuan kita untuk bergerak.
Ternyata, kesuksesan seseorang tidak melulu diukur dengan kemampuannya
berpikir, atau tinggi rendahnya intelegensia seseorang.

Saat masalah datang bertubi-tubi, kita sering berharap semua selesai pada
waktunya. Sayangnya, kita malas memikirkan tiga hal ini :

• Mengapa masalah itu masih ada
• Apa yang harus kita perbaiki
• Seperti apa keadaaan yang benar-benar kita inginkan

Kita sudah merasa puas jika sebuah masalah teratasi. Jika bersikap seperti itu,
artinya tak punya kemauan untuk berpikir.

Selain itu, saat berkubang dengan masalah, kita juga sering merasa mati langkah.
Demikian besar hasrat kita untuk segera keluar dari sana, tapi justru membuat kita
kehilangan energi untuk bergerak. Seperti orang yang terjerembab ke pusaran
pasir hidup. Semakin kuat kita meronta, semakin dalam kita terperosok. Yang
kita rasakan adalah kelelahan luar biasa, dan langkah kita serba terbelenggu
oleh banyak hal ruwet. Kita jadi tak punya kemampuan untuk bergerak.

Padahal, dengan kemauan untuk terus berpikir, maka berbagai kemungkinan
akan terbuka. Kemampuan bergerak adalah kegigihan kita memotivasi diri
dan fokus pada peluang. Tidak ada usaha yang sia-sia. Yakinlah bahwa jika kita
bersungguh-sungguh, maka Allah akan mengatur yang terbaik.

Sebagaimana jangkar kapal yang hanya perlu diangkat satu inchi untuk
membuatnya berlayar, hakikat berpikir yang bisa menyelesaikan masalah adalah
cara berpikir yang sedikit lebih tinggi dari masalah tersebut.
Saya bangkrut dengan utang 62 milyar, tanpa penghasilan sepeserpun. Jika saya berpikir bahwa
62 milyar adalah angka yang sangat besar, maka saya akan sulit bergerak—
padahal faktanya angka itu memang sangat besar. Utang orang tua saya paling
banyak empat ratus ribu rupiah.

Dengan tekad menjadi lebih besar dari masalah yang ada, saya memilih untuk
berpikir bahwa 62 milyar memang pantas untuk saya. Allah menyiapkan saya
untuk menangani masalah yang besar, dan saya yakin akan memiliki uang yang
jauh lebih besar daripada sekedar 62 milyar itu.

Banyak orang yang tergesa-gesa menyelesaikan masalah yang menimpanya
dengan cara dan perilaku yang sama yang membuat dia jatuh. Bagai mengobati
luka dengan salep yang sudah kadaluwarsa. Saat masalah melilit, kita sering
menyesali bahkan mengutuk masalah itu. Banyak sekali masalah yang kita lihat.
Padahal, bisa saja yang kita lihat itu hanyalah tanda-tanda masalah, karena
masalah yang sebenarnya adalah diri kita sendiri.

Cara tercepat memperbaiki masalah adalah dengan memperbaiki diri.

Selain cara pandang, definisi masalah juga perlu dirumuskan ulang. Menurut
saya, tidak kaya adalah masalah jika membuat kita tidak leluasa bergerak, tidak
bisa melakukan kebaikan yang kita inginkan, atau tidak bisa memberikan yang
terbaik kepada keluarga, masyarakat, agama, dan bangsa. Apalagi jika tidak
kaya itu berarti miskin. Karena miskin itu mutlak sebuah masalah. Kita akan
membahasnya lebih lanjut di bagian berikutnya.

Dalam sebuah pertemuan, seseorang pernah bertanya kepada saya “Mana yang
Bapak pilih, jadi orang kaya atau jadi orang mulia?”
“Saya memilih keduanya. Jadi orang kaya sekaligus mulia,” jawab saya.
“Jika kita harus memilih salah satu, bagaimana, Pak?” lanjutnya.
“Siapa yang mengharuskan memilih salah satu. Apakah Allah membatasi kita
dengan satu pilihan untuk kaya saja atau mulia saja?” jawab saya.

Menurut saya, itu pertanyaan (maaf) bodoh. Makna yang tersirat dari pertanyaan
itu adalah jika kita memilih jadi orang kaya, maka kita tidak bisa jadi orang mulia.
Sebaliknya, jika kita memilih jadi orang mulia, maka kita tidak bisa hidup kaya.
Masih banyak di antara kita yang gemar berpikir dikotomis. Berbicara tentang
ketaqwaan kepada Allah swt sering diartikan sebagai sikap meninggalkan dunia.
Orang yang berusaha membangun kekayaan serta merta dianggap tidak
bertakwa. Sementara saya sendiri percaya bahwa orang yang hanya mengejar
materi dan mengabaikan spiritualitas akan kehilangan kesempatan untuk
mengenal Tuhannya. Sebaliknya, orang yang hanya mendalami spiritualitas tetapi
mengabaikan materi akan kehilangan banyak kesempatan untuk bertanggung
jawab kepada keluarga dan masyarakat.

Jadi, hak kita adalah untuk memiliki kedua-duanya: kaya dan mulia. Rasulullah
pun kaya dan mulia. Beliau bersedekah seperti angin. Artinya, sedekah beliau
tak pernah berhenti. Mungkinkah bisa bersedekah jika beliau miskin? Beliau
pasti kaya. Di saat yang sama, Rasulullah adalah manusia utama, manusia yang
paling mulia. Jika Allah memerintahkan manusia untuk menjadikannya uswatun
hasanah, teladan yang baik, maka hidup mulia dan kaya adalah hak kita.

Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar Asshidiq, Ustman bin Affan, dan Umar bin
Khattab adalah orang-orang kaya. Mereka juga manusia mulia. Mentalitas
dan pola pikir orang kaya adalah ingin menjadi orang kaya sekaligus mulia.
Sebaliknya, mentalitas orang miskin menganggap bahwa kaya dan mulia
adalah dua arah yang berbeda. Jika memilih kaya maka tidak bisa hidup mulia
begitupun sebaliknya.

Padahal, Islam mendudukkan kemiskinan dengan posisi yang jelas. Dalam situasi
tertentu, kemiskinan wajib disantuni. Tapi di saat yang sama, Islam juga mencela
kemiskinan dan dinyatakan dekat dengan kekafiran. Allah juga memerintah agar
umat manusia bekerja keras mencari karunia-Nya. Perintah Allah itu berlaku
bagi semua manusia. Lantas, mengapa kualitas kehidupan seseorang berbeda
satu sama lain? Coba kita simak kisah dua orang teman saya.

Amir dan Umar lulusan dari kelas dan universitas yang sama. Dosen mereka
yang sama, buku-buku sama, menghabiskan waktu yang sama, bahkan tinggal
di tempat kos yang sama. Namun setelah sembilan belas tahun berselang,
hanya Amir dan dua temannya yang hidup dengan kekayaan berlimpah. Umar
dan teman sekelas yang lain hidup biasa-biasa saja, beberapa di antara mereka
bahkan hidup susah.

Mari kita amati, apa yang membuat Amir, Umar, dan teman-temannya memiliki
kualitas kehidupan yang berbeda. Ternyata, yang menentukan kualitas hidup
mereka bukan melulu tingkat pendidikan, melainkan perilaku masing-masing.
Terlihat jelas bahwa yang memiliki perilaku berkualitas unggul akan memiliki
kualitas kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang lain.

Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa perilaku seseorang berbeda satu
dengan yang lain? Bagaimana agar kita memiliki perilaku yang berkualitas?

Perilaku adalah sesuatu yang bisa kita lihat. Kita bisa melihat bagaimana orang
berjalan, makan, marah, atau tidur sekalipun. Ternyata, ada sesuatu yang tidak
kita lihat, yang menentukan perilakunya. Itulah yang kita sebut sebagai wadah
atau konteks. Wadah inilah yang menentukan perilaku, perilaku menentukan isi
atau kualitas hidup seseorang, termasuk di dalamnya apakah dia akan menjadi
orang kaya atau miskin.
“Gelas dan Ember” manakah yang memiliki kapasitas menampung air lebih banyak?
Wadah untuk air misalnya. Jika yang kita miliki adalah gelas, maka maksimal air
yang bisa kita tampung adalah sebanyak satu gelas. Jika kita memiliki ember,
maka air yang bisa kita tampung adalah satu ember. Gelas dan ember adalah
wadah, sedangkan air adalah isi. Wadah melambangkan kapasitas kita. Tanpa
memperbesar wadah, kita tidak bisa memiliki isi yang lebih banyak. Wadah dan
isi berlaku dalam semua aspek kehidupan: karir, kekayaan, kesuksesan, keluarga
yang bahagia, maupun ketaatan kita kepada Allah swt. Wadah memberi tahu kita
tentang besarnya kapasitas, wadah menunjukkan karakter seseorang, karakter
unggul adalah wadah besar.

Allah hanya menunggu apa yang benar-benar kita inginkan.

Nah, ada tiga hal yang menentukan besar kecilnya kapasitas seseorang.

Pertama, seberapa sadar kita tentang jati diri kita sendiri. Bagaimana
kita melihat diri kita sendiri? Bagaimana kita memberikan identitas pada diri
kita? Sebagai orang sukses atau orang gagal? Orang kaya atau orang miskin?
Seberapa sadar kita tentang jati diri kita akan terlihat dalam bentuk karakter kita.

Seseorang yang sadar sepenuhnya tentang jati dirinya sebagai pemuka agama,
maka segala tindak tanduknya menunjukkan karakter pemuka agama yang bisa
diteladani. Demikian pula mereka yang menyadari jati dirinya sebagai pemimpin,
dia akan memiliki karakter sebagai pemimpin yang baik.

Ya, kesadaran tentang jati diri itu yang perlu kita pastikan, karena kaya atau
miskin bukanlah suatu keadaan, tetapi mentalitas. Kaya atau miskin itu karakter.
Identitas apa yang Anda pilih untuk diri Anda sendiri? Orang sukses, gagal,
beriman, pemimpin, atau apa? Atau... jangan-jangan kita tidak pernah menyadari
jati diri kita sendiri?

Seseorang yang tidak menyadari jati dirinya tak akan jadi siapa-siapa. Jika dia
tak sadar dengan jati dirinya sebagai suami, maka dia tak akan tahu bagaimana
bersikap sebagai suami, dan cenderung memiliki rumah tangga yang runyam.
Orang yang tak menyadari jati dirinya sebagai orang kaya akan berperilaku
seperti orang miskin: meminta-minta, pelit, atau bahkan boros. Ingat, nyaris
semua pengeluaran orang miskin adalah untuk konsumsi. Perilakunya itu
mengantarkan dirinya menjadi orang miskin.

Kedua, apa yang sungguh-sungguh kita yakini. Keyakinan seperti apa yang
kita miliki. Apakah kita meyakini bahwa kualitas hidup ini hanya urusan takdir,
atau ada hal lain bernama usaha. Apakah kita yakin bisa meraih sesuatu, atau
merasa tidak mungkin. Apakah kita yakin hanya bisa sukses dengan riba atau
justru yakin bahwa riba yang akan menghancurkan kita.
Apa yang diyakini oleh seseorang akan muncul sebagai pembentuk karakternya.
Orang yang begitu yakin tentang hebatnya sedekah akan memiliki karakter yang
sangat berbeda dengan orang yang tidak meyakini sedekah. Semua keyakinan
akan menentukan karakter dan perilaku kita. Keyakinan merupakan factor kunci
dalam membangun kekayaan.

Bisnis yang hanya menghasilkan uang adalah jenis bisnis yang menyedihkan.
~ Henry Ford ~

Ketiga, apa nilai-nilai yang kita bela. Keputusan seseorang mencerminkan
nilai yang dibelanya. Dulu bangsa Indonesia terlepas dari penjajahan yang telah
beratus tahun dialami karena menemukan nilai yang dibela, yaitu kata “merdeka”.
Saat memaknai kata “merdeka,” bangsa Indonesia bisa dengan lantang berkata
“merdeka atau mati.” Artinya, lebih baik mati daripada tidak merdeka. Sekarang,
tanyakan kepada diri kita, apa nilai yang kita bela? Gaya hidup atau membangun
kekayaan? Kejujuran atau uang? Kepentingan diri sendiri atau kepentingan
agama? Uang cepat atau keberkahan? Apa yang kita bela menentukan apa
yang kita putuskan, menentukan karakter kita, menentukan kualitas hidup kita.
Jati diri, keyakinan, dan nilai menentukan kapasitas seseorang, dan menentukan
karakternya. Kapasitas inilah yang akan menentukan seperti apa kualitas
hidupnya. Kapasitas adalah wadah, dan wadah akan menentukan isi.

Saat Rasulullah saw membangun agama, yang dibangun adalah akhlak, karakter,
dan mentalitas ummat. Rasulullah membangun wadah yang hebat!
Wadah adalah diri kita. Kekayaan akan mengalir kepada siapa saja yang
berpikir, berperilaku, berkeyakinan, dan bertindak sebagaimana orang kaya.
Serumit apapun masalah yang kita hadapi, setinggi apapun impian yang kita
miliki, pastikan kita memiliki wadah yang cukup untuk itu, karena Allah hanya
menunggu apa yang benar-benar kita inginkan.

Baca Juga :